Selasa, 23 Oktober 2012

All The Love In The World

In your eyes, I see only one
Find me the place for us, that's where I belong
There we rise, your glory and mine
Your pain is over now, I make you shine
Still believing

All the love in the world won't take me away from you
My love is stronger, I am what you make me
All the love in the world won't take you away from me
In all my wonder, I forever lay down here with you

I find when love slips away
Reach out for all you can, before it's too late
There you fly, returnin' to me
Out of your darkest nights, I stand alone
Still believing


All the love in the world won't take me away from you
My love is stronger, I forever lay down here with you

My love is true, all your darkest nights
I stand alone, still believing

All the love in the world won't take me away from you
My love is stronger, I forever lay down here with you

All the love in the world won't take you away from me
My love is stronger, I forever lay down here with you
All the love in the world won't take me away from you


by : Dionne Warwick

Minggu, 21 Oktober 2012

Goodnight Sweetheart

Window seat, thirty thousand feet above the ground
Blue moonbeams on silver wings, brings me down
Slipping off my coat for the long night flight
I find a note she wrote last night
I can almost hear those words as I close my eyes

Goodnight sweetheart, sleep tight where ever you are
God hold you in His arms while we're apart
Though you're far away
Your love will stay, tucked away here in my heart
Goodnight sweetheart, sleep tight where ever you are

These days I leave the one who needs me
More and more it seems
It's a high price that she pays
For the dreams, I dream


So goodnight sweetheart, sleep tight where ever you are
God hold you in His arms while we're apart
Though you're far away
Your love will stay, tucked away here in my heart
Goodnight sweetheart, sleep tight where ever you are
Goodnight sweetheart, sleep tight where ever you are


By : David Kersh

Sabtu, 20 Oktober 2012

Sepotong Kisah lain Tentang Soekarno

sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa-dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu.
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
“Pak, Pak, ini Ega…”
Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
“Hatta.., kau di sini..?”
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
“Ya, bagaimana keadaanmu, No?”
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.
“Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.
Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
“No…”
Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.
Berita kematian Bung Karno dengan cara yang amat menyedihkan menyebar ke seantero Pertiwi. Banyak orang percaya bahwa Bung Karno sesungguhnya dibunuh secara perlahan oleh rezim penguasa yang baru ini. Bangsa ini benar-benar berkabung. Putera Sang Fajar telah pergi dengan status tahanan rumah. Padahal dia merupakan salah satu proklamator kemerdekaan bangsa ini dan menghabiskan 25 tahun usia hidupnya mendekam dalam penjara penjajah kolonial Belanda demi kemerdekaan negerinya.
Anwari Doel Arnowo, seorang saksi sejarah yang hadir dari dekat saat prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar dalam salah satu milis menulis tentang kesaksiannya. Berikut adalah kesaksian dari Cak Doel Arnowo yang telah kami edit karena cukup panjang:
Pagi-pagi, 21 Juni 1970, saya sudah berada di sebuah lubang yang disiapkan untuk kuburan manusia. Sederhana sekali dan sesederhana semua makam di sekelilingnya. Sudah ada sekitar seratusan manusia hidup berada di situ dan semua hanya berada di situ, tanpa mengetahui apa saja tugas mereka sebenarnya. Yang jelas, semuanya bermuka murung. Ada yang matanya penuh airmata, tetapi bersinar dengan garang. Kelihatan roman muka yang marah. Ya, saya pun marah. Hanya saja saya bisa menahan diri agar tidak terlalu kentara terlihat oleh umum.
Kita semua di kota Malang mendengar tentang almarhum yang diberitakan telah meninggal dunia sejak pagi hari dan sudah menyiapkan diri untuk menunggu keputusan pemakamannya di mana. Sesuai amanat almarhum, seperti sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum, Bung Karno meminta agar dimakamkan di sebuah tempat di pinggir kali di bawah sebuah pohon yang rindang di Jawa Barat (asumsi semua orang adalah di rumah Bung Karno di Batu Tulis di Bogor).
Tetapi lain wasiat dan amanah, lain pula rezim Soeharto yang secara sepihak memutuskan jasad Bung Karno dimakamkan di Blitar dengan dalih bahwa Blitar adalah kota kelahirannya. Ini benar-benar ceroboh. Bung Karno lahir di Surabaya di daerah Paras Besar, bukan di Blitar! Bung Karno terlahir dengan nama Koesno, dan ikut orang tuanya yang jabatan ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru yang mengajar di sebuah Sekolah di Mojokerto dan kemudian dipindah ke Blitar. Di sinilah ayah Bung Karno, meninggal dunia dan dimakamkan juga di sisinya, isterinya (yang orang Bali ) bernama Ida Ayu Nyoman Rai.
Setelah matahari tinggal sepenggalan sebelum terbenam, rombongan jenazah Bung Karno akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang hadir didorong-dorong oleh barisan tentara angkatan darat yang berbaris dengan memaksa kumpulan manusia agar upacara dapat dilaksanakan dengan layak.
Tampak Komandan Upacara jenderal Panggabean memulai upacara dan kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping Bapak Kapolri Hoegeng Iman Santosa, yang sedang sibuk berbicara dengan suara ditahan agar rendah frekuensinya tidak mengganggu suara aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada di mana? Beliau menjawab singkat di kota Wlingi. Hah?! Sebelas kilometer panjangnya iring-iringan rombongan ini sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, Utara kota Malang.
Pak Hoegeng yang sederhana itu kelihatan murung dan sigap melakukan tugasnya. Dia berbisik kepada saya: “There goes a very great man!!” Saya terharu mendengarnya. Apalagi ambulans (mobil jenazah) yang mengangkut Bung Karno terlalu amat sederhana bagi seorang besar seperti beliau. Saya lihat amat banyak manusia mengalir seperti aliran sungai dari pecahan rombongan pengiring. Sempat saya tanyakan, ada yang mengaku dari Madiun, dari Banyuwangi bahkan dari Bali.
Saya menuju ke arah berlawanan dengan tujuan ke rumah Bung Karno, di mana kakak kandung beliau, Ibu Wardojo tinggal. Hari sudah gelap dan perut terasa lapar karena kita tidak berhasil mendapatkan makanan atau minuman, sebab kalau pun ada warung atau penjual makanan, pasti sudah kehabisan minuman atau makanan apa pun yang bisa ditelan. Saya ingat bahwa orang Muhammadiyah tidak memberi hidangan, minum sekalipun, kepada kaum pelayat. Bung Karno adalah orang Muhammadiyah. Kota Blitar tidak siap menampung orang sekian banyak. Setelah dilakukan pemakaman jenazah Bung Karno, beberapa waktu di kemudian hari semua makam Pahlawan di Taman Pahlawan Sentul ini dipindahkan ke Mendukgerit, yang telah saya kenal sebelumnya sebagai Bendogerit.
Pemindahan ini dilaksanakan dengan alasan di lokasi pemakaman sudah penuh, tetapi pada kenyataannya kemudian ada proyek pembangunan makam Bung Karno yang memakan area cukup lebar.
Kuburannya Pun Tidak Boleh Dijenguk
Sejarah mencatat, sejak 1971 sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi umum dan dijaga sepasukan tentara. Kalau mau mengunjungi makam harus minta izin terlebih dahulu ke Komando Distrik Militer (KODIM). Apa urusannya KODIM dengan izin mengunjungi makam?
Saya bersama ibu saya dan beberapa saudara datang secara mendadak pergi ke Blitar dengan tujuan utama ziarah ke Makam Bung Karno. Tanpa ragu kita ikuti aturan dan akhirnya sampai ke pimpinannya yang paling tinggi. Saya ikut sampai di meja pemberi izin dan sudah ditentukan oleh kita bersama, bahwa salah satu saudara saya saja yang berbicara. Saya sendiri meragukan emosi saya, bisakah saya bertindak tenang terhadap isolasi kepada sebuah makam oleh Pemerintah atau rezim? Nah, ternyata meskipun tidak terlalu ramah, mereka melayani dengan muka seperti dilipat. Mungkin dengan menunjukkan muka seperti itu merasa bertambah rasa gagahnya terhadap rakyat biasa macam kami. Akhirnya semua beres dan kami mendapat sepucuk surat. Apa yang terjadi?
Sesampainya di makam kami turun dari kendaraan kami dan saya bawa surat izin dari KODIM. Surat itu kami tunjukan ke tentara yang jaga makam. Waktu tentara itu baca surat, saya terdorong untukmenoleh ke belakang. Terkejut saya. Selain rombongan sendiri, Ibu saya dan saudara-saudara, telah mengikuti kami sebanyak lebih dari tiga puluh orang, bergerombol. Mereka, orang-orang yang tidak kami kenal sama sekali, melekat secara rapat dengan rombongan kami. Saya lupa persis bagaimana, akan tetapi saya ingat kami memasuki pagar luar dan kami bisa mendekat sampai ke dinding kaca tembus pandang dan hanya memandang makamnya dari jarak, yang mungkin hanya sekitar tiga meter.
Para pengikut dadakan yang berada di belakang rombongan kami dengan muka berseri-seri, merasa beruntung dapat ikut masuk ke dalam lingkungan pagar luar itu. Ada yang bersila, memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya, posisi menyembah. Saya tidak memperhatikannya, tetapi jelas dia bukan berdoa cara Islam. Mereka khusyuk sekali dan waktu kami kembali menuju ke kendaraan kami, beberapa di antara mereka menjabat tangan dan malah ada yang menciumnya, membuat saya merasa risih.
Salah seorang dari mereka ini mengatakan bahwa dia sudah dua hari bermalam di sekitar situ di udara terbuka menunggu sebuah kesempatan seperti yang telah terjadi tadi. Tanpa kata-kata, saya merasakan getar hati rakyat, rakyat Marhaen kata Bung Karno! Mereka menganggap Bung Karno bukan sekedar Proklamator, tetapi seorang Pemimpin mereka dan seorang Bapak mereka. Apapun yang disebarluaskan dan berlawanan arti dengan kepercayaan mereka itu semuanya dianggap persetan. Dalam hubungan Bung Karno dengan Rakyat, tidak ada unsur uang berbicara.
Dibunuh Perlahan
Keyakinan orang banyak bahwa Bung Karno dibunuh secara perlahan mungkin bisa dilihat dari cara pengobatan proklamator RI ini yang segalanya diatur secara ketat dan represif oleh Presiden Soeharto. Bung Karno ketika sakit ditahan di Wisma Yasso (Yasso adalah nama saudara laki-laki Dewi Soekarno) di Jl. Gatot Subroto. Penahanan ini membuatnya amat menderita lahir dan bathin. Anak-anaknya pun tidak dapat bebas mengunjunginya.
Banyak resep tim dokternya, yang dipimpin dr. Mahar Mardjono, yang tidak dapat ditukar dengan obat. Ada tumpukan resep di sebuah sudut di tempat penahanan Bung Karno. Resep-resep untuk mengambil obat di situ tidak pernah ditukarkan dengan obat. Bung Karno memang dibiarkan sakit dan mungkin dengan begitu diharapkan oleh penguasa baru tersebut agar bisa mempercepat kematiannya.
Permintaan dari tim dokter Bung Karno untuk mendatangkan alat-alat kesehatan dari Cina pun dilarang oleh Presiden Soeharto. “Bahkan untuk sekadar menebus obat dan mengobati gigi yang sakit, harus seizin dia, ” demikian Rachmawati Soekarnoputeri pernah bercerita.

Profile Presiden Soekarno

LATAR BELAKANG KELUARGA

Soekarno lahir 06 Juni 1901 di Surabaya dari pasangan Sukemi Sosrodihardjo(seorang guru) dan Ida ayu Nyoman Rai(bangsawan Bali) yang lebih dikenal Idayu. Mula-mula namanya Koesnososro Soekarno, tetapi karena sering sakit waktu kecil, kemudian di panggil Soekarno saja.

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
Pada usia hampir 13 tahun, Soekarno tamat sekolah Dasar Bumiputera di Mojokerto,melanjutkan kesekolah dasar Belanda dan lulus pada usia 14 tahuN dengan sekaligus mengantungi ijazah ujian calon pegawai negeri rendahan. Melanjutkan ke HBS di Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto, seorang pemimpin sarekat islam, setelah lulus masuk tehnische Hoge School, Institut Teknologi Bandung, sambil terus bergerak dibidang poliyik yang dimulai sejak di Surabaya. Soekarno memimpin studi klub di Bandung bersama iskaq dan anwari, lulus lulus sebagai insinyur tahun 1925.

JENJANG KARIER
Bersama-sama dengan sartono,anwari, samsi tilaar, sujdjadi , iskak tjokroadisuryo, budiarto tjipto mangunkusumo, dan sunario, tanggal 04 Juni 1927 mendirikan perserikatan Nasional Indonesia(PNI) yang kemudian diubah menjadi Partai Nasional Indonesia(PNI). Soekarno ditangkap di Yogyakarta 29 Desember 1929, ditahan dipenjara Banceuy, diadili tahun 1930 dengan pidato pembelaan diri Indonesia menggugat, divonis penjara 4 tahun di penjara Sukamiskin. Keluar dari penjara tahun 1932, aktivitasnya membakar semangat rakyat semakin besar . di tangkap lagi dadakan karena menyebarkan risalah Mencapai Indonesia Merdeka dan diasingkan ke ende Flores. Selama 4 tahun dipengasingan ende , pada 14 Febuari 1938 dipindah ke Bengkulu. Tahun 1945 Soekarno dan Hatta sudah yakin jepang itu penjajah. Soekarno bersama Hatta mendirikan Putera(pusat tenaga Rakyat) karena jepang tahu maksudnya dibelokan untuk kemerdekaan. Seolah-olah simpati pada kemerdekaan jepang maendirikan Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 28 Mei 1945. 17 Agustus 1945 teks Proklamasi di bacakan di kediaman Soekarno. Sehari setelah Indonesia merdeka, panitia persiapan kemerdekaan kemudian mengesahkan Soekarno sebagai presiden pertama RI dan Hatta sebagai Wapres.


PRESTASI

01 juni 1945 Soekarno menyampaikan visi tentang falsafah dan dasar Negara yang kemudian dikenal sebagai hari lahir pancasila. Pada tanggal 18-25 april 1955 Soekarno membawa Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferesi Asia Afrika di Bandung. 05 juli 1959 Soekarno mengeluarkan dekrit yang menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. 30 september 1960 Soekarno mengingatkan pembebasan Irian Barat dan direalisasikan dengan Trikora. 14 Januari 1999 mendapat tanda penghargaan lencana tugas kencana, sebagian dari sederet gelar lainya, termasuk 27 gelar doctor kehormatan.





















TUGAS BAHASA INGGRIS

BACKGROUND FAMILY

Soekarno born 06 June 1901 [in] Surabaya from Sukemi Sosrodihardjo(Seorang teacher couple) and Ida Nyoman Rai(Bangsawan Bali ayu) what more knowledgeable Idayu. Originally its name [of] Koesnososro Soekarno, but because often small time pain, later;then [in] calling just Soekarno

BACKGROUND EDUCATION
[At] age almost 13 year, Finish Native people elementary school Soekarno [in] elementary Mojokerto,Melanjutkan kesekolah [of] Dutch and pass [at] age 14 tahuN at the same time low public servant candidate test diploma poke. Continuing to HBS [in] Surabaya and live in HOS Tjokroaminoto house, a islam sarekat leader, after passing to enter Hoge School tehnische, Technological Institute [of] Bandung, at the same time continue to make a move poliyik area started [by] since [in] Surabaya. Soekarno lead klub study [in] Bandung with anwari and iskaq, pass to pass as year engineer 1925

LADDER CAREER
Together with sartono,anwari, tilaar samsi, sujdjadi , tjokroadisuryo iskak, mangunkusumo tjipto budiarto, and sunario, date of 04 June 1927 founding confederation [of] National Indonesia(Pni) what [is] later;then turned into Party National Indonesia(Pni). Soekarno arrested [by] [in] Yogyakarta 29 December 1929, arrested to be to be served a sentence [by] Banceuy, judged [by] year 1930 with Indonesia x'self plea sue, to be adjudged [by] prison 4 year [in] Sukamiskin prison. Go out from year prison 1932, its activity arise spirit ever greater people . [in] catching again dadakan because propagating Tired brochure [of] Indonesia Independence and detached to Flores ende. During 4 year deportation [of] ende , [at] 14 Febuari 1938 moved to Bengkulu.

Year 1945 Soekarno and Hatta have sure that japan [of] colonist. Soekarno with Hatta found Putera(Pusat People energy) because its intention soybean cake japan [of] turn for the independence of. Impressing sympathy [at] independence [of] Body Investigation maendirikan japan of[is Effort Preparation [of] Independence [of] Indonesia ( BPUPKI) 28 May 1945. 17 August 1945 Proclamation text [in] reading off [in] residency [of] Soekarno. One day after Indonesia independence, committee preparation [of] independence later;then authenticate Soekarno as first president [of] And Hatta RI as Wapres

CHIEVEMENT

01 juni 1945 Soekarno submit vision about state s philosophy and philosophy which [is] later;then known as [by] pancasila birthday. On 18-25 april 1955 Soekarno bring success Indonesia carry out Asian Konferesi [of] African [in] Bandung. 05 juli 1959 Soekarno [release] decree expressing going into effect [him/ it] return UUD 1945. 30 september 1960 Soekarno remind Iiberation [of] Irian West and realized with Trikora. 14 January 1999 getting sign appreciation [of] gold duty badge, some of its title sederet [of] nya, including 27 honorary doctor title

Jumat, 19 Oktober 2012

BIOGRAPHY SOEKARNO

Ir. Soekarno1 (6 Juni 1901-21 Juni 1970) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945-1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ia menerbitkan Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.
Latar belakang dan pendidikan
Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali [1].
Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).
Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.

Keluarga Soekarno
Istri Soekarno
* Oetari
* Inggit Garnasih
* Fatmawati
* Hartini
* Ratna Sari Dewi Soekarno (nama asli: Naoko Nemoto)
* Haryati
Putra-putri Soekarno
* Guruh Soekarnoputra
* Megawati Soekarnoputri, Presiden Indonesia masa jabatan 2001-2004
* Guntur Soekarnoputra
* Rachmawati
* Sukmawati
* Taufan dan Bayu (dari istri Hartini)
* Kartika Sari Dewi Soekarno (dari istri Ratna Sari Dewi Soekarno)
Masa pergerakan nasional
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.
Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.
Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.
Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
Masa penjajahan Jepang
Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur
Soekarno bersama Fatmawati dan Guntur
Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Soekarno diantara Pemimpin Dunia.JPG
Soekarno diantara Pemimpin Dunia.JPG
Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.
Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.
Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.
Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.
Masa Perang Revolusi
Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.
Ruang tamu rumah persembunyian Bung Karno di Rengasdengklok.
Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan tanggal turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.
Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.
Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.
Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.
Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.

Masa kemerdekaan

Soekarno dan Joseph Broz Tito
Soekarno dan Joseph Broz Tito
Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.
Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai “kabinet semumur jagung” membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai “penyakit kepartaian”. Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.
Soekarno dan John F Kennedy
Soekarno dan John F Kennedy
Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat “bom waktu” yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.
Soekarno dan Jawaharlal Nehru
Soekarno dan Jawaharlal Nehru
Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRT).
Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia “bercerai” dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat “memenuhi” cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.
Sakit hingga meninggal
Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya Soeharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.
Peninggalan
Pada tanggal 19 Juni 2008, Pemerintah Kuba menerbitkan perangko yang bergambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro.[2] Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan “kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba”.
Penamaan
Nama lengkap Soekarno ketika lahir adalah Kusno Sosrodihardjo.[3] Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa[rujukan?]; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno[rujukan?]. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda)[rujukan?]. Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah[rujukan?].
Sebutan akrab untuk Ir. Soekarno adalah Bung Karno.
Achmed Soekarno
Di beberapa negara Barat, nama Soekarno kadang-kadang ditulis Achmed Soekarno. Hal ini terjadi karena ketika Soekarno pertama kali berkunjung ke Amerika Serikat, sejumlah wartawan bertanya-tanya, “Siapa nama kecil Soekarno?” karena mereka tidak mengerti kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang hanya menggunakan satu nama saja atau tidak memiliki nama keluarga. Entah bagaimana, seseorang lalu menambahkan nama Achmed di depan nama Soekarno. Hal ini pun terjadi di beberapa Wikipedia, seperti wikipedia bahasa Ceko, bahasa Wales, bahasa Denmark, bahasa Jerman, dan bahasa Spanyol.
Sukarno menyebutkan bahwa nama Achmed di dapatnya ketika menunaikan ibadah haji.[4]
Dan dalam beberapa versi lain, disebutkan pemberian nama Achmed di depan nama Sukarno, dilakukan oleh para diplomat muslim asal Indonesia yang sedang melakukan misi luar negeri dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan negara Indonesia oleh negara-negara Arab.
Catatan kaki
1. ^ http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/biography/index.asp?presiden=sukarno
2. ^ ROY. “Kuba Terbitkan Perangko Bung Karno dan Fidel Castro”, Kompas Cyber Media, 3 Juni 2008. Diakses pada 3 Juni 2008.
3. ^ Profil Tokoh: Ir. Soekarno. bangfauzi.com. URL diakses pada 3 Juni 2008
4. ^ Adams, Cindy. 1965. Sukarno, an autobiography as told to Cindy Adams. New York:The Bobs Merryl Company Inc.
Daftar pustaka
* (id) Dr. Syafiq A. Mughnie,M.A.,PhD. Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal. PT. Bina Ilmu, 1994, pp 110-111.
* (en) Leslie H. Palmier. Sukarno, the Nationalist. Pacific Affairs, vol. 30, No, 2 (Jun. 1957), pp 101-119.
* (en) Bob Hering, 2001, Soekarno, architect of a nation, 1901-1970, KIT Publishers Amsterdam, ISBN 90-6832-510-8, KITLV Leiden, ISBN 90-6718-178-1
* (nl) Lambert J. Giebels, 1999, Soekarno. Nederlandsch onderdaan. Biografie 1901-1950. Deel I, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam, ISBN 90-351-2114-7
* (nl) Lambert J. Giebels, 2001, Soekarno. President, 1950-1970, Deel II, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam, ISBN 90-351-2294-1 geb., ISBN 90-351-2325-5 pbk.
* (nl) Lambert J. Giebels, 2005, De stille genocide: de fatale gebeurtenissen rond de val van de Indonesische president Soekarno, ISBN 90-351-2871-0

Rabu, 17 Oktober 2012

Pilih Kedokteran Hewan Karena Dia

Inilah kisah saya. Ketika saya lulus SMA. Ketika saya lagi bingung harus memilih jurusan apa yang sesuai dengan bakat dan hobby saya. Bahkan saat saya tak pernah tau dengan jelas sebenarnya apa yang menjadi bakat dan hobby saya. Banyak brosur Perguruan Tinggi berserakan di meja belajar saya tapi tak ada satu jurusan pun yang benar menjadi pilihan. Malah sempat berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah. Tapi saat itu orang tua mengharapkan saya harus kuliah. Tapi orang tua juga tidak pernah tau saya harus melanjutkan ke mana. Yang jelas saya kuliah di pulau Jawa karena SMA saya juga di kota Surabaya. Mungkin sekitar satu bulan saya dibawa kegalauan dan kebingungan. Lalu saya memutuskan untuk tidak berpikir kuliah lagi dan serahkan saja semuanya pada Dia yang telah menciptakan saya. Saya sadar inilah keputusan yang paling berat seumur hidup saya dan tak bisa saya putuskan sendiri tanpa Dia. Dengan kepasrahan saya Dia mendengarkan setiap ucapan-ucapan hati saya. Tak lama kemudian orang tua menelpon lagi, menanyakan kepastian saya. Saya hanya menjawab saya tetap mau kuliah saya masuk jurusan Sospol. Orang tua sempat memberikan masukan dan menceritakan banyak hal seakan mereka tak merestui kalau saya memilih jurusan Sospol lalu saya mencoba bertanya. Kira-kira jurusan apa yang cocok buat saya? Orang tua memberikan jawaban, bagaimana kalau dokter hewan. Ketika itu juga badan saya merinding seakan orang tua ada bersama Dia. Saya menjawabnya, iya! Dalam hati saya sempat mengucapkan terima kasih pada Dia karena itulah jawaban pertanyaan hati dan do'a saya. Ketika saya menjawab iya orang tua sempat menggiring saya lagi masuk Kedokteran Orang/manusia tapi saya menolaknya dengan keras, karena saya sudah merasa tepat dengan dokter hewan alasan saya waktu itu kedokteran orang/manusia itu mahal tapi orang tua masih mau saja kalau saya mau tapi tetap saya tidak mau. 


Ketika malam menjelang tidur saya mencoba untuk mengingat lagi telpon sore hari dengan orang tua. Banyak pikiran yang terlintas di benak. Antara mengingat masa lalu saya ketika orang tua serta kakek nenek yang hobby beternak dan mengukir masa depan seperti apa? Sempat berpikir juga kampus mana yang harus saya tempuh. Antara Unair Surabaya dan UGM Jogjakarta. Lalu saya memilih saja tetap di Surabaya. Ketika semuanya sudah kupastikan saya memutuskan untuk pulang kampung berlibur sekalian menunjukan nilai-nilai saya selama SMA pada orang tua. Sudah sebulan lebih tiga minggu berlibur, saya kembali ke Surabaya untuk mencoba daftar di FKH Unair Surabaya ternyata pendaftarannya sudah tutup. Saya sempat stress karena mendapat inforamasi yang tidak akurat. Tak tau harus ke mana lagi? Sementara jurusan S1 Kedokteran Hewan di Surabaya cuman ada di Unair. Saya kembali bingung dan memilih diam sepanjang waktu. Saya berdo'a lagi. Tuhan ke manakah yang Engkau mau? Tunjukkan jalanMu. Tak sempat kuterlarut berpikir lalu kucoba melihat kembali brosur yang saya simpan. Yang saya temukan adalah brosur UWKS terus saya lihat jurusan apa saja yang ada. Ternyata benar ketika itu tercantum jelas program studi D3 Kedokteran Hewan tapi masih Fakultas Pertanian. Tak apalah kucoba saja, pikirku dalam hati daripada aku tunda kuliah tahun depannya lagi. Saya menuju UWKS menayakan informasi yang akurat. Kampus UWKS waktu itu masih menerima mahasiswa baru dan pihak kampus menjanjikan untuk segera buka S1 nya dalam waktu yang tak terlalu lama. Lalu saya putuskan untuk segera mendaftarkan diri saya sebagai mahasiswa D3 Kedokteran Hewan. Saat itu juga saya sempat berpikir dengan dengan jawaban do'a saya. Saya sadar inilah jalanku benar dari Dia.


Sudah semester empat saya kuliah S1 Kedokteran Hewan dibuka. Orang tua menyarankan saya untuk segera transfer ke S1 biar semester lima/tahun ajaran baru saya sudah mahasiwa di S1 Kedokteran Hewan. Tapi saya pastikan untuk selesaikan dulu D3 nya biar pengalamannya lebih banyak. Pikirku waktu itu! Orang tua merestuinya. Setelah D3 selesai baru aku lanjut S1. Step by step. S1 nya juga sudah selesai. "Banyak pelajaran yang aku terima". Kini saya sudah KOAS melanjutkan pendidikan profesi dokter hewan yang sebentar lagi menjadi seorang dokter hewan. Saya berterima kasih buat Dia yang sudah menunjukan jalan ini. Inilah tanggung jawab saya yang Dia berikan. Yang kuyakin dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia. Inilah kisah saya yang tak pernah berjalan sendiri tanpa Dia.


 

Minggu, 14 Oktober 2012

NASIONALISME

Pengaruh Nasionalisme Dalam Diri Soekarno

Oleh : Tulus Chandra Putra Simanungkalit


1.2.3 Pengaruh Nasionalisme

Nasionalisme pada tahun 1836 dalam bahasa Inggris awalnya bersifat teologis, sebagai doktrin bahwa bangsa-bangsa tertentu dipilih secara ilahiah selanjutnya cenderung disamakan dengan egoisme nasional. Penggunaan kata nasionalisme paling awal merujuk pada filsuf Jerman , Johan Gottfried Herder dan biarawan kontra-revolusioner Perancis, Uskup Augustin de Baruel pada akhir abad kedelapan belas. Nasionalisme memiliki makna yang diantaranya :

1) Suatu proses pembentukan, atau pertumbuhan bangsa-bangsa.

2) Suatu sentimen atau kesadaran memiliki bangsa yang bersangkutan.

3) Suatu bahasa dan simbolisme bangsa.

4) Suatu gerakan sosial dan politik demi bangsa bersangkutan.

5) Suatu doktrin dan /atau idologi bangsa, baik yang umum maupun yang khusus.

Menurut Ernest Renan, bangsa adalah satu jiwa yang bersolider, memiliki kehendak untuk bersatu sebagai pengikatnya. Otto Bauer menyatakan bangsa adalah satu persamaan, suatu persatuan karakter, watak yang timbul, lahir dan terjadi karena persamaan pengalaman.

Nasionalisme Indonesia menurut Soekarno tidak sama dengan nasionalisme Eropa, di mana nasionalisme Indonesia dan Asia pada umumnya lahir dari protes dan kritik terhadap praktek imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme negara-negara Eropah atau produk antitesa yang dilahirkanoleh imperialisme, kolonialisme,  kapitalisme di Indonesia dan di Asia.

Nasionalisme yang tumbuh dan berkembang di Eropah merupakan produk dari pematangan kapitalisme industri yang secara pesat berkembang di negara-negara industri maju yang pada ahkirnya nasionalisme yang
seperti ini melahirkan ambisi untuk meng-ekspansi negara-negara lain.

Soekarno menilai Bangsa merupakan hubungan historis-sosio-politik yang artinya bahwa wilayah atau tanah air memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dengan warga negaranya, baik secara geo politik, secara
karakter manusianya, maupun secara senasib sepenanggungan, termasuk sosio kultural, sosio ekonomi dan sosio politik.

Soekarno memformulasi perjuangan kaum nasionalis dengan apa yang dikatakannya :

" Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi ` perkakasnya Tuhan … Kita, kaum pergerakan nasional Indonesia, kita bukan sahaja merasa menjadi abdi atau hamba darupada tanah tumpah darah kita, akan tetapi kita juga merasa menjadi abdi dan hamba Asia, abdi dan hamba semua kaum yang sengsara, abdi dan hamba dunia…… "

Soekarno sebagai seorang nasionalis memandang bahwa untuk mengusir imperialisme-kapitalisme dari Indonesia hanya dapat dilaksanakan dengan perjuangan kebangsaan dan bukan perjuangan kelas. Soekarno
berpandangan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme harus bersatu untuk melawan imperialisme-kapitalisme. Ide Soekarno tersebut didasarkan atas pandangan :

1. Berdasarkan ajaran Renan, Kautsky, Otto Bauer tentang nasionalisme dengan melihat cara-cara perjuangan para pemimpin India seperti Gandhi, Maulana Mohammad Ali, Sjaukat Ali, Gopala Krishna Gokhale, C.R DAS, Prof. Vaswani, Sun Yat Sen maka Nasionalisme harus dapat bersatu dengan Islam dan Marxisme.

2. Berdasarkan ajaran-ajaran Moh. Abduh, Seyid djamaludin El Afgani, Arabi Pasha, Mustafa Kamil, Moh. Farid Bey, Aly Pasha, Moh. Ali dan Sjaukat Ali ditambah dengan larangan Qur'an mengenai riba dan anjuran sosialisme dan demokrasi maka Islam di Indonesia harus dapat bersatu dengan Nasionalisme dan Marxisme.

3. Berdasarkan ajaran-ajaran Marx, Engels, Ferdinand Lassale, Blanque, Sismondi, Thompson disertai dengan realitas bahwa Nasionalisme dan Islam adalah aliran politik dan aliran agama yang tertindas, maka Marxisme di Indonesia harus dapat bersatu dengan Nasionalisme dan Islam.

Soekarno memang mencita-citakan akan persatuan dan kesatuan serta kerukunan antara golongan Nasionalis, Islam dan Marxis. Ketiga kekuatan ini dianggap Soekarno sebagai kekuatan hebat yang dapat dijadikan senjata perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme.

Soekarno juga tak segan-segan mengecam kaum nasionalis yang dianggapnya terlalu mengagung-agungkan kemajuan barat. Menurutnya nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme ke-Barat-an, melainkan merupakan nasionalisme ke-Timur-an. Nasionalisme dalam diri Soekarno bertumbuh dikarenakan situasi Indonesia di masa penjajahan.

Dalam tulisannya tentang Nasionalisme, Islam, dan Marxisme, suatu aliran yang paling jelas tentang pokok-pokok pikiran Soekarno, bahwa gerakan-gerakan Islam, Marxis dan Nasionalis di Indonesia berasal dari satu dasar yang sama, yaitu hasrat kebangsaan untuk melawan kapitalisme dan imperialisme. Soekarno jelas sekali menghimbau ketiga kekuatan ideologi politik itu harus bersatu dalam menghadapi musuh bersama.

Oleh karena itulah Soekarno berusaha melibatkan keseluruhan golongan politik revolusioner Indonesia dalam satu Front Nasional yang menjadi kekuatan yang ditakuti oleh imperialisme dan kapitalisme asing. Hal ini dapat dilihat dengan dimasukannya NU, PNI dan PKI kedalam Front Nasakom yang dicetuskan Soekarno sebagai reperesentasi kekuatan politik Indonesia.

Berdasarkan pandangan kebangsaan yang sangat melekat dalam diri Soekarno ia sendiri menyatakan ketidaksepakatannya terhadap perjuangan kelas. Hal ini diungkapkannya dalam Fikiran Ra'jat pada tahun 1932 melalui perkataanya : " Dan apakah prinsip kita itu berarti, bahwa kita ini harus mementingkan perjuangan kelas? Juga sama sekali tidak. Kita nasionalis, mementingkan perjuangan nasional, perjuangan kebangsaan. " Dalam perenungan Soekarno ternyata gagasan Karl Marx dengan mengobarkan semangat perlawanan kaum buruh di Eropah tidak memungkinkan dipraktekan di Hindia Belanda. Kondisi di Eropah dengan perindustrian yang pesat tidak sama dengan situasi dan kondisi di Indonesia, terlebih lagi watak imperialisme yang dibawa oleh Kolonial Belanda ternyata berpengaruh dalam membangun karakter perlawanan rakyat Indonesia.

Menurut Soekarno, pola perlawanan dengan model perjuangan kelas ala Karl Marx tidak sesuai dengan model perjuangan rakyat Indonesia karena kultur di dua negeri yang berbeda sama sekali. Eropa adalah negeri dengan industri maju pesat dan mayoritas kelas yang ter-eksploitasi oleh kapitalisme adalah kaum buruh sementara di Indonesia mayoritas adalah petani, nelayan, buruh tani, buruh perkebunan, kuli serta kaum melarat lainnya.

Persatuan adalah suatu alat dan cara untuk menyempurnakan perjuangan rakyat jelata menuju perubahan dan perbaikan nasib dalam masyarakat yang sesuai dengan kemajuan jaman. Persatuan menyangkut soal strategi dan taktik.

Berdasarkan realitas ini maka dibutuhkan simbol pemersatu dari sekian banyak profesi yang mengalami penindasan dan penghisapan sehingga terbentuk suatu wadah bersama dalam melakukan perlawanan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penindasan oleh kapitalisme. Dengan demikian sudah jelas Soekarno tetap berupaya menghimpun semua potensi nasional. Menurut Bernhard Dahm dalam bukunya Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan menyimpulkan bahwa sangat jelas Soekarno sebetulnya sangat berkeinginan untuk menghidari perjuangan kelas itu sama sekali.

Soekarno juga tak segan-segan menyerang kaum nasionalis yang dianggapnya terlalu berangan-angan akan kemajuan bangsa lain dan ingin meniru kemajuan bangsa lain itu di Indonesia. Dalam perkataannya Soekarno mengungkapkan : " Jempol sekali jikalau negeri kita bisa seperti negeri jepang atau negeri Amerika atau negeri Inggris! Armadanya ditakuti dunia, kotanya haibat-haibat, bank-banknya meliputi dunia, benderanya kelihatan dimana-mana…..! kaum nasionalis yang demikian itu lupa bahwa barang-barang yang hebat itu adalah hasil kapitalisme, dan kaum marhaen di negeri ini adalah tertindas…. Mereka hanyalah ingin Indonesia merdeka saja sebagai maksud yang penghabisan.

Trilogi perjuangan yang diformulasikan Soekarno dalam rangka menyuburkan paham nasionalisme dalam hati sanubari rakyat Indonesia diterapkannya dengan cara :

1. Menunjukan kepada rakyat Indonesia bahwa mereka memiliki hari dulu yang indah.


2. Menambah keinsyafan rakyat Indonesia bahwa mereka memiliki hari atau masa kini yang suram dan gelap.

3. Memperlihatkan kepada rakyat Indonesia sinarnya hari yang kan datang yang berseri-seri, dan terangnya cuaca serta bagaimana caranya mendatangkan masa depan yang penuh dengan janji-janji.

Dengan adanya Trilogi yang diciptakan Soekarno tersebut maka dalam tataran praksisnya ia menyusun pergerakan rakyat melalui beberapa cara :

1. Membangkitkan kesadaran rakyat bahwa keadaan hidup rakyat tidak adil.

2. Membangkitkan kemauan rakyat supaya mau memperbaiki nasib yang tidak adi itu menjadi adil.

3. Melatih rakyat supaya merasa mampu mengadakan perjuangan memperbaiki nasib tersebut.

Kisah kepahlawanan para pejuang yang berkorban demi tanah air tampak sangat bergejolak dalam diri Soekarno melalui penuturannya kepada Cindy Adams,

" Berapa banyak saudara-saudara kita yang meringkuk dalam pembuangan ? Aku tidak pernah berpikir menjawabnya. Aku tahu jumlahnya diluar kepala. Lebih dari dua ribu orang dibuang ke Tanah Merah… Dan pada waktu pembawa-pembawa obor kemerdekaan ini diusir masuk kedalam hutan lebat, mereka pergi dengan tersenyum… Di Tanah Tinggi bertaburanlah kuburan mereka, dari yang 300 orang itu hanya 64 orang yang masih hidup. Pengorbanan seperti itu telah pula terjadi di Pulau Muting dan Pulau Banda. Tapi ingatlah tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Ingatkah engkau tentang keempat yang digantung di Ciamis ?. salah seorang dari mereka berhasil menyusupkan surat kepadaku di malam sebelum menjalani hukumannya. " Bung Karno besok saya akan menjalani hukuman gantung. Saya meninggalkan dunia yang fana ini dengan hati gembira, menuju tiang gantungan dengan keyakinan dan kekuatan batin, oleh karena saya tahu bahwa Bung Karno akan melanjutkan peperangan ini yang juga merupakan peperangan kami. Teruslah berjuang, Bung Karno, putarkan jalannya sejarah untuk semua kami yang sudah mendahului sebelum perjuangan itu selesai. "


Pengorbanan para pejuang, penderitaan rakyat akibat hisapan imperialisme itulah yang oleh Soekarno dirumuskan sebagai Amanat Penderitaan Rakyat, yaitu suara hati nurani yang tidak terucap ke permukaan, akan tetapi terdengar bila telinga kita dilekapkan ke tanah. Indonesia tidak mungkin dapat membangun kekuatan nasional tanpa dilandasi semangat nasionalisme, karena semangat nasionalisme merupakan ruhnya kekuatan nasional.

Hal ini diterapkan Soekarno untuk meyakinkan rakyat bahwa yang menyebabkan penderitaan rakyat Indonesia serta menjadikan rakyat Indonesia menjadi terbelakang adalah akibat dari imperialisme. Bagi Soekarno rakyat Indonesia perlu diyakinkan bahwa ketika imperialisme dan penjajahan sudah dilenyapkan dari tanah air maka kejayaan di masa lampau yang pernah ditorehkan bangsa Indonesia dapat diraih kembali.